Buku ini lahir dari sebuah kegelisahan akademis. Kita tidak jarang menemui asumsi di tengah masyarakat yang seolah membenturkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Agama (Islam) sering dipersepsikan hanya berbasis pada wahyu, hadis, dan ijtihad ulama, sementara ilmu (sains) dianggap melulu mengandalkan rasio dan data empiris. Asumsi inilah yang kemudian berkembang menjadi benturan dan melahirkan pandangan dualisme atau dikotomi keilmuan yang telah mengakar, bahkan dalam institusi pendidikan kita.
Implikasinya, umat Islam terkadang gamang; ada kesadaran untuk mengkaji ayat-ayat qauliyah (teks wahyu), namun di sisi lain cenderung mengabaikan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) yang sejatinya juga merupakan hamparan khazanah keilmuan dari-Nya.
Atas dasar itulah, buku ini hadir sebagai sebuah ikhtiar sederhana untuk turut mengikis dikotomi tersebut. Kami mencoba menawarkan sebuah gagasan integrasi keilmuan, yang memandang bahwa antara Islam dan ilmu pengetahuan bukanlah dua entitas yang berseberangan, melainkan satu kesatuan yang utuh.
Landasan filosofis yang kami gunakan adalah konsep fundamental dalam Islam itu sendiri, yakni Tauhid dan Khalifah fil Ardl. Tauhid, sebagai inti ajaran Islam, kami posisikan sebagai landasan integrasi yang menyatukan segala sumber pengetahuan. Sementara kesadaran akan peran manusia sebagai khalifah di bumi mendorong kita untuk tidak hanya memahami wahyu, tetapi juga wajib memahami alam semesta (afaq) dan diri manusia itu sendiri (anfus) sebagai medium untuk mengenal-Nya.