Fenomena fatherless—ketiadaan figur ayah secara emosional dan spiritual dalam keluarga—menjadi persoalan sosial yang kian mengkhawatirkan. Ia tak hanya melemahkan ketahanan keluarga, tetapi juga menggerus keseimbangan nilai dalam rumah tangga.
Buku ini menelusuri secara mendalam bagaimana Al-Qur’an menawarkan solusi etik terhadap krisis tersebut melalui pemahaman yang adil dan proporsional tentang peran gender. Dengan pendekatan teori Struktural Fungsionalis, penulis menghadirkan pembacaan yang segar dan kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang ayah, ibu, dan kemitraan dalam rumah tangga.
Melalui analisis yang jernih dan reflektif, tulisan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar tanggung jawab biologis, melainkan amanah spiritual yang menentukan arah tumbuhnya generasi berakhlak.
Karya ini menjadi jembatan antara teks ilahi dan realitas sosial, mengajak pembaca menata ulang pemahaman tentang keluarga, keadilan peran, dan kasih sayang yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Fenomena fatherless—ketiadaan figur ayah secara emosional dan spiritual dalam keluarga—menjadi persoalan sosial yang kian mengkhawatirkan. Ia tak hanya melemahkan ketahanan keluarga, tetapi juga menggerus keseimbangan nilai dalam rumah tangga.
Buku ini menelusuri secara mendalam bagaimana Al-Qur’an menawarkan solusi etik terhadap krisis tersebut melalui pemahaman yang adil dan proporsional tentang peran gender. Dengan pendekatan teori Struktural Fungsionalis, penulis menghadirkan pembacaan yang segar dan kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang ayah, ibu, dan kemitraan dalam rumah tangga.
Melalui analisis yang jernih dan reflektif, tulisan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar tanggung jawab biologis, melainkan amanah spiritual yang menentukan arah tumbuhnya generasi berakhlak.
Karya ini menjadi jembatan antara teks ilahi dan realitas sosial, mengajak pembaca menata ulang pemahaman tentang keluarga, keadilan peran, dan kasih sayang yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Fenomena fatherless—ketiadaan figur ayah secara emosional dan spiritual dalam keluarga—menjadi persoalan sosial yang kian mengkhawatirkan. Ia tak hanya melemahkan ketahanan keluarga, tetapi juga menggerus keseimbangan nilai dalam rumah tangga.
Buku ini menelusuri secara mendalam bagaimana Al-Qur’an menawarkan solusi etik terhadap krisis tersebut melalui pemahaman yang adil dan proporsional tentang peran gender. Dengan pendekatan teori Struktural Fungsionalis, penulis menghadirkan pembacaan yang segar dan kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang ayah, ibu, dan kemitraan dalam rumah tangga.
Melalui analisis yang jernih dan reflektif, tulisan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar tanggung jawab biologis, melainkan amanah spiritual yang menentukan arah tumbuhnya generasi berakhlak.
Karya ini menjadi jembatan antara teks ilahi dan realitas sosial, mengajak pembaca menata ulang pemahaman tentang keluarga, keadilan peran, dan kasih sayang yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.